SPACE IKLAN

PASANG IKLAN disini HUBUNGI ARYO 085694952636

SPACE IKLAN

PASANG IKLAN disini HUBUNGI ARYO 085694952636

SPACE IKLAN

PASANG IKLAN disini HUBUNGI ARYO 085694952636

SPACE IKLAN

PASANG IKLAN disini HUBUNGI 085694952636

SPACE IKLAN

PASANG IKLAN disini HUBUNGI ARYO 085694952636

Minggu, 13 Juni 2010

Deskripsi Masjid Al-Aqsa


Nabi pernah melakunan lawatan bertajuk lawatan bumi-langit (yang dikenal dengan istilah "Isra Mi'raj"). Disepanjang perjalanan tersebut, beliau melihat kebesaran kekuasaan Allah. Beliau lihat tanda-tanda kekuasaan yang menunjukkan bahwa Allah Maha Tahu. Beliau bertemu dengan para nabi dan bersalaman dengan mereka, bahkan shalat bersama mereka sebagai iaman di Baitul Maqdis. Dalam perjalanan di langit itu pula shalat disyariatkan dan beliau lihat berbagai bentuk balasan orang-orang yang saleh dan durjana.

Sepulang dari perjalanan bumi-langit yang ditempuh hanya dalam semalam tersebut, pagi harinya beliau keluar dari rumahnya untuk menceritakan kepada khalayak masyarakat tentang apa yang beliau lihat dan saksikan dari berbagai tanda kebesaran Allah.

Akan tetapi, bagaimana mungkin orang-orang yang kukuh mendustakan bahwa wahyu Allah turun dari langit ke bumi pada Muhammad SAW mau percaya begitu bahwa beliau dimi'rajkan ke langit. Mula-mula Nabi SAW bercerita tentang perjalanan isra beliau ke Baitul Maqdis. Bara api pun seolah-olah tersulut didalam hati dan dada mereka, memuntahkan seluruh dendam dan kedengkian mereka. Setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa berlomba-lomba mengobok-obok Muhammad SAW begitu ia selesai bercerita, mereka langsung memintanya untuk menggambarkan Baitul Maqdis pada mereka dan mereka tahu persis bahwa beliau belum pernah melihatnya sama saekali seumur hidupnya.

Rasulullah bersabda,
"Ketika orang-orang Quraisy menudingku berbohong, aku langsung berdiri di Hijir (Isma'il), lalu Allah memperlihatkan di hadapanku Baitul Maqdis, maka aku pun mulai memberitahukan kepada mereka mengenai tanda-tanda sambil melihatnya."

Allah menolong Nabi-Nya dan mengeluarkannya dari cobaan ini. Andai saja Allah tidak menolong beliau dengan memperlihatkan Baitul Maqdis dihadapan beliau, tentu orang-orang musyrik akan mendustakan habis-habisan dan akan semakin banyak pula orang-orang yang murtad, keluar dari Islam dan kembali kejalan kekafiran. hal itu dikarenakan sewaktu Nabi SAW di'israkan, beliau tidak sempat mengamati betul Masjidil Aqsha, pintu-pintunya dan jendela-jendelanya. Nabi pun tidak mengenal satu persatu nabi yang shalat bersama beliau di Baitul Maqdis, karena jumlah mereka sangat banyak dan mereka berkumpul untuk shalat dibelakang beliau. Ketika beliau maju dan menjadi imam mereka, beliau langsung menyelesaikan perjalanan tanpa berkenalan dengan mereka satu persatu. Karena itu, ketika beliau naik ke langit, beliau terus bertanya kepada Jibril tentang mereka satu persatu. Tatkala kaum musyrikin menodong beliau dengan permintaan mereka untuk menggambarkan Masjidil Aqsa, beliau pun tidak tahu apa yang harus beliau katakan. Namun Allah dengan cepat memperlihatkan kepada beliau gambaran masjid tersebut, sehingga Nabi bisa dengan mudah dan lancar menggambarkannya kepada mereka.

Begitulah.. Orang-orang berkumpul mengerubuti Nabi untuk mendengarkan ceritau beliau dan untuk membuktikan bahwa beliau bohong. Nabi lantas berdiri di Hijir dan Allah pun memperlihatkan gambaran Baitul Maqdis dihadapan Nabi-Nya sehingga beliau bisa menggambarkannya secara gamblang dihadapan mereka. Orang-orang kafir tentu saja kebingungan dan terus mencari-cari sesuatu yang bbisa menunjukkan pada mereka bahwa beliau pembohong, namun mereka kewalahan, tidak mampu mencarinya dan membiarkan Nabi menceritakan pengalamannya, sementara mereka hanya bisa pasrah tanpa mampu menunjukkan kebohongan.

Sabtu, 05 Juni 2010

Kesaksian Se-ekor Serigala



Penulis tertarik mengawali pembicaraan tentang kalangan yang mengetahui (menyadari) kebenaran dan mengakui kerasulan Muhammad SAW dari bangsa hewan agar bangsa manusia mau mengambil pelajaran dan mengikuti kebenaran yang terang benderang cahanya di ujuk cakrawala.

Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri, ia bercerita : Seekor serigala mengejar seekor domba dan menangkapnya, lalu si pengembala mengejarnya dan menarik domba tersebut dari cengkramannya. Serigala tersebut pun duduk berjongkok diatas ekornya sambil berkata, "Apakah kau tidak takut kepada Allah? Mengapa kau ambil paksa dariku rezeki yang telah diberikan Allah kepadaku?
"Aneh bin ajaib", seri si pengembala. "Ada seekor serigala berbicara kepadaku seperti manusia!" "Maukah kau aku beritahu sesuatu yang lebih menakjubkan dari hal tersebut?" Tukas serigala. "Muhammad SAW di Yatsrib memberitahukan kepada umat manusia berita-berita umat terlebih dahulu."

Abu Sa'id melanjutkan : (Tertarik dengan ucapan serigala tersebut) si pengembala pun menggiring dombanya ke Madinah dan begitu memasuki kota tersebut ia tambatkan dombanya disalah satu sudut kota Madinah, kemudian datang menghadap Rasulullah SAW dan memberitahukan kejadian tersebut.

Rasulullah SAW lantas memberikan perintah (untuk mengumpulkan umat di masjid) maka dikumandangkan seruan "Mari dirikan shalat berjamaah" (setelah orang-orang berkumpul), beliau kemudian keluar menemui mereka dan berbicara kepada sipengembala, "ceritakan pada mereka" Si pengembala pun menceritakan apa yang dialaminya pada kahalayak jamaah shalat.

Rasulullah SAW menukas "Benar apakatanya, Demi Dzat yang diriku ada didalam genggaman tangan kuasa-Nya, kiamat tidak akan tiba sampai ada binatang-binatang buas yang berbicara pada manusia, dan sampai ada seseorang yang diajak bicara oleh ujung cambuknya dan oleh tali sepatunya, sertia diberitahu oleh pahanya mengenai apa yang diperbuat oleh keluarganya sepeninggalnya."

Melihat Kemungkaran

Ada sebagian dari teman kita bertanya pada saya, Apabila kita melihat penguasa berbuat kemungkaran, harus bagaimanakah sikap kita sebagai masyarakat ?

Harus kita akui memang, ada beberapa pemimpin kita kerap kita lihat keluar-masuk peradilan dunia dengan sebab-sebab yang berbeda-beda. Sesungguhnya mereka juga hanyalah manusia biasa yang tak luput dari sebuah dosa, mereka pun punya hawa nafsu seperti kita, terus bagaimana sikap kita kalau kita melihat kemungkaran itu terjadi didepan mata kita ? baik itu dilakukan penguasa-penguasa kita ataupun manusia dalam konteks lebih luas. Rasulullah bersabda :


"Dari abu Said al-Khudri, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah bresabda, "Siapa diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya (mencegahnya) kengan tangannya (kekuasannya), jika dia tidak sanggup, maka dengan lisannya (menasihatinya), dan jika tidak sanggup juga, maka dengan hatinya(merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman". (HR Muslim)

Jelas Rasulullah dengan sabdanya, mengajarkan kita bagaimana sikap atau perilaku disaat kita melihat kemungkarang terjadi dihadapan mata kita. Dalam hadist ini juga menunjukkan bahwa imana berbeda-beda tingkatannya, sebagiannya ada yang lemah dan sebagiannya ada yang kuat. Ini menurut pendapat Ahlus Sunnah wal Jama'ah, mereka memiliki dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, bahwa iman itu berbeda-beda tingkatannya.
Namun kita tidak perlu risau tentang kemungkaran mereka (para penguasa kita) karena banyak yang berhasil menipu daya kita sebagai seorang rakyat, banyak yang akhirnya lolos dari tuduhan yang sebenarnya memang benar-benar mereka lakukan, tidak sedikit juga yang tidak diketahui oleh badan-badan yang terkait tentang kemungkaran namun apa yang mereka lakukan itu akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang mereka pimpin dan tak sedikitpun kebaikan atau keburukan yang akan terlewat dari pengadilan-Nya sebagaimana sabda Rasulullah :

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang istri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.


Dari hadist tersebut kita tangkap bahwa setia manusia itu pemimpin dan akan dipertanggung jawabkan apa yang mereka telah pimpin.
Semoga kita semua menjadi pemimpin-pemimpin yang baik, pemimpin-pemimpin yang hidup dalam dekapan-Nya, pemimpin-pemimpin yang adil bagi setiap apa-apa yang kita pimpin.

AMIN-AMIN YA ROBBAL ALAMIN.. !!